Natal: Damai Yang Bermula Dari Keluarga

Posted on 24 December 2011

4


(Sebuah refleksi Natal)

Sejak awal Desember, aroma Natal tercium dimana-mana di kota ini. Lagu-lagu Natal mulai diperdengarkan dan beberapa toko mulai memajang pernak-pernik Natal seperti pohon Natal, lampu Natal, boneka santa, dan sebagainya. Di gereja-gereja mulai memasang lilin adven sebagai simbol iman penantian umat Allah akan kedatangan Yesus Tuhan. Atmosfer Natal yang selalu berulang di awal Desember memunculkan spirit tersendiri untuk saya. Spirit keceriaan dan kegembiraan serta damai yang menjadi harapan untuk tahun berikutnya.

Perayaan Natal tahun 2011 ini bertemakan “Ekaristi Sumber Berkat dalam Keluarga”. Keluarga menjadi sorotan karena bayi Yesus hadir di dunia melalui keluarga dan menjadi bagian dari keluarga. Natal menjadi perayaan keluarga yang mentradisi di segenap keluarga Kristen. Jika hari raya natal tiba, budaya mudik atau pulang kampung juga terjadi karena keinginan untuk berkumpul bersama keluarga besar di hari bahagia tersebut. Tidak tekecuali dalam keluarga kami. Saya masih ingat saat kanak-kanak ketika keluarga kami masih utuh, kami tinggal di sebuah kota kecil yang disebut little Betlehem di Flores (Bajawa). Menjelang Natal, rumah selalu ceria karena mama selalu membuat kue untuk hari raya saat tanggal 24 Desember. Disaat mama sedang sibuk membuat kue kiri-kiri saya senang membantu apa saja, bapak sibuk memotong ayam atau daging sapi atau babi untuk dimasak pada malam hari tersebut. Ketika pulang misa malam Natal, kami sekeluarga akan menyantap masakan Natal, setelah itu disuguhkan kue kiri-kiri dan minuman sirup jeruk. Sekalipun sederhana tapi kebiasaan tersebut sangat bermakna karena adanya kebersamaan saat Natal.

Natal berasal dari bahasa Latin, yang artinya ‘lahir’. Natal adalah sebuah pesta besar orang Kristen, pada hari mana, kita merayakan kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Natal juga disebut pesta kelahiran. Karena gereja tidak tahu persis tanggal dan hari yang tepat dari kelahiran Kristus, maka diambillah hari dimana orang Roma merayakan kelahiran dewa mataharinya. Hari itu jatuh pada tanggal 25 Desember. Orang Kristen dewasa ini menyembah Kristus pada hari ini dan merayakan kedatangannya sebagai Terang Dunia. Yesus adalah matahari keselamatan dunia.

Makna Natal adalah kelahiran Yesus yang secara sederhana di sebuah gua (ada juga yang menyebut kandang) tempat para gembala menyimpan domba gembalaannya dan juga ketika lahir bayi mungil Yesus hanya dibungkus lampin. Kelahiran Yesus Kristus merupakan perwujudan cinta kasih Allah kepada manusia.

Kisah Natal dalam Injil adalah kisah yang berisi orang-orang yang rela menjalani panggilan Allah walaupun sulit dan berbahaya. Natal ‘diperankan’ oleh orang-orang yang berkata “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku seperti perkataan-Mu itu.” Tidak banyak wanita yang mau menempuh bahaya seperti Maria, tidak banyak laki-laki yang bertanggung jawab seperti Yusuf. Maria, Yusuf, dan bayi Yesus adalah gambaran keluarga ideal dimana cinta kasih dan penyerahan diri seutuhnya kepada kehendak Allah menjadi spirit dan warna dari hidup keseharian mereka.

Natal adalah panggilan Tuhan bagi setiap kita, untuk mulai terlibat dalam rencana-Nya. Seringkali rencana-Nya itu terlihat berbahaya dan tidak menguntungkan di posisi kita, tetapi bagi setiap orang yang mau taat, Allah akan memudahkan segalanya. Rencana-Nya adalah kita menjadi pembawa damai, yang dimulai dari ruang lingkup kita yang paling kecil yaitu keluarga. Selanjutnya damai itu akan menyebar ke lingkungan, komunitas, tempat kerja, hingga masyarakat kita.

“Damai sejahtera Kutingglkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” (Yoh 14;27)

Doa Natal

Tuhan,
Berilah kami damai Natal dalam rumah kami. Selamatkanlah kami dari bahaya ingat diri, kelakuan yang jahat dan iri hati yang dapat menyebabkan kehidupan kami tidak bahagia dan dilingkari berbagai kesulitan.

Tuhan,
Bantulah agar kami berdamai dalam pekerjaan-pekerjaan kami. Jauhkanlah segala rasa curiga, kurang percaya diri dan iri hati dari antara semua orang yang saling bekerja sama. Biarkanalah kami semua bekerja sama untuk menjadikan dunia ini satu tempat tinggal yang lebih baik.

Tuhan,
Bantulah kami dalam mengusahakan perdamaian di antara para bangsa. Biarlah semua manusia hidup dalam damai. Jangan biarkan kami memandang rendah orang-orang dari suku atau bangsa atau agama yang lain. Bantulah kami untuk menerima setiap orang yang kami jumpai sebagai sama saudara kami.

Tuhan,
Semoga terciptalah perdamaian antara para bangsa. Hancurkanlah permusuhan, peperangan dan pertikaian. Berilah kami pemimpin-pemimpin yang senantiasa berusaha mencari perdamaian. Biarlah semua anak-Mu hidup dalam damai dan kesejahteraan.

Merry Chistmast  (25 Desember 2011)

&

Happy New Year (01 Januari 2012)

***Eddieson Djea. Diambil dari sini.

Advertisements