Ini Natalku, Gimana Natalmu?

Posted on 24 December 2011

3


Gambar diambil dari Google.

Saya memulai tulisan ini dengan sedikit beban ketika diminta kak Tuteh dari Flobamora Community untuk menulis sebuah refleksi Natal menurut pribadi saya, yang kebetulan merayakannya. Kenapa? Merefleksikan Natal bagi saya adalah urusannya hati dan setiap orang punya deskripsinya masing-masing. Dan rasanya kok berat untuk dibagi, karena saya juga bukan siapa-siapa, bukan orang hebat tapi orang yang senantiasa mau belajar tentang hidup. Akhirnya saya sendiri meyepakati diri untuk menulis ini, membagi sesuatu seturut pengalaman bantin saya pribadi. Karena Natal itu getaran batin dari sisi spiritual, begitu kata sastrawan dan budayawan Gerson Poyk. Getaran batin yang berakar dari akal, imajinasi dan segenap kekuatan naluriah.

Memaknai Natal adalah memahami pribadi masing-masing. Menakar setiap kebaikan dan kebajikan yang senantiasa saya dan Anda buat dalam hidupnya. Sekalian kekeliruan yang mungkin saya dan Anda buat. Bahwasannya kebaikan adalah segalanya, adalah anugerah hidup paling sempurna yang dihadiahkan Sang Pencipta maka berbuahlah yang banyak dalam pohon kebaikan itu. Dualisme ini adalah pilihan yang ditawarkan Pencipta dengan pertimbangan akal budi saya sebagai manusia, bukan hewan bersel satu. Manusia yang punya energi spiritual: akal, imajinasi dan naluri.

Saya berhenti menulis dan memainkan beberapa lagu Natal dari Michael Buble sambil membiarkan lamunan saya terbang jauh ke masa kanak saya dulu di sebuah kecamatan kecil yang jaraknya 20an km ke utara kota SoE. Natal dulu adalah perayaan spesial nan spiritual tidak seperti sekarang ini, Natal yang makin membuat sesama manusia dekat tapi seolah terpisah jauh. Natal kini adalah merayakan kasih yang tak sampai, karena umat manusia sudah terlampau sibuk dengan dirinya sendiri dan menjadi terasing dalam penjara teknologi. Natal kini tampaknya bersifat komersil semata. Natal yang sangat Industrialis ala Amerika, bukan lagi Natal ala orang SoE, Kupang, Ende, Alor, dsb.
Natal yang rumahnya penuh dekorasi,  kerlip lampu pohon natal, kaun kaki santa atau mistelto yang tergantung di pintu rumah tapi lantas bikin seisi rumah saling kaku satu sama lain.
Atau ada damai sukacita namun terkesan polesan semata yang dibuat-buat.

Dulu, saat Natal kampung menjadi sangat ramai karena semua orang saling mengunjungi. Rumah-rumah tangga menjadi sangat ramai hingga larut malam karena sukacita Natal menyebar ke sudut-sudut kampung, ke setiap dasar hati.  Di kampung saya ada begitu banyak warga pendatang, baik warga keturunan Tionghoa, keturunan Bugis  maupun Sabu, ketiga suku yang paling kentara dominasinya diantara warga Timor itu sendiri. Tapi semuanya menyatu dengan kentalnya menjadi satu formula warna yang selaras dan indah. Waktu itu saya masih merasakan banyak orang Bugis yang notabene Muslim mampir ke rumah saat Natal juga sebagaian kecil warga keturunan yang masih beragama Kong Hu Chu. Tapi kini antar tetangga cuma bisa berkirim SMS sedangkan saling berkunjung adalah peristiwa yang sama sekali lenyap dari memori dan mungkin akan terjadi peristiwa kikuk masal bila dilakukan lagi he-he. Entah perubahan sosial macam apa lagi ini. Kini tak adalah lagi anak-anak kecil yang sibuk berkeliling kampung sepanjang hari untuk bertukar keceriaan Natal dengan kue-kue milik Tuan dan Nyonya rumah. Dan pada sore hingga malam hari, giliran yang muda dan yang tua yang berkeliling untuk berbagi semangat persaudaraan.

Saya dan Anda mungkin tergolong beruntung karena pernah merayakan Natal seperti cerita di atas. Karena hal-hal seperti itu terbukti mampu menciptakan energi spiritual yang maha dahsyat, getaran batin yang selamanya tumbuh dan berkembang bersama hidup, cinta dan harapan manusia. Percaya atau tidak kalau pengalaman-pengalaman seperti itu yang nyatanya turut andil membangun karakter kemanusiaan kita hari ini, bukan?

Karakter kemanusiaan dimana kepedulian dan kerendahan hati adalah jawaban akhirnya.
Dengan saling berkunjung kita dilaith untuk senantiasa belajar peduli dengan kondisi di sekitar kita, tetangga hingga nasib Bangsa yang besar ini. Dan dalam kepedulian itu, kita pun akan belajar untuk rendah hati setiap saat di tengah-tengah keberadaan kita sebagai warga bangsa yang beragam ini.
Konsep sederhana yang sudah ditawarkan Tuhan untuk kita jalani.

Maka mungikin satu-satunya harapan akan kerinduan kita terhadap Natal yang sederhana, damai dan bersahabat adalah pergi ke gereja, ikut bernyanyi dengan penuh sukacita dan mendengar firmanNya yang menenangkan jiwa. Karena yang datang padaNya akan beroleh nikmat spiritual yang sama-sama dirindukan. Getaran batin yang mampu mengembalikan karakter kemanusiaan kita kembali kepada kepedulian dan kerendahan hati. Sebab cerita Natal yang memeriahkan sudut kota, Mall, hotel, swalayan, dll (mungkin juga rumah-rumah tangga kita kini) hanyalah Natal yang matre. Natal yang komersil doang.

Ahh. Ini cerita Natalku…
Apa cerita Natalmu, kawan?

 

***Christian Dicky Senda untuk Flobamora Community.

Advertisements