We Are The Family

Posted on 23 December 2011

4



Selamat Hari Ibu 🙂 wahai sohib Flobamora Sekalian!

Hari ini, 22 Desember 2011, kita merayakan Hari Ibu. Tahukan kalian tentang sejarah Hari Ibu? Twitter FC : @flobamorata, sudah membahas sejarah Hari Ibu. Komplit! Yang jelas, Hari Ibu Nasional diperingati pada tanggal 22 Desember setiap tahunnya berdasarkan Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Saat itu masih Presiden Soekarno.

Sejak kemarin hastag ‘Ibu’atau ‘Hari Ibu’ bertebaran di jejaring sosial; Twitter, Plurk, Facebook, dan lain-lainnya. Semua orang tidak mau ketinggalan menulis tentang ibu di blog atau notes FB. Saya bahkan langsung membuat tulisan tentang ibu di blog pribadi saya. Tiap orang punya apresiasi berbeda tentang ibu, tentang merayakan Hari Ibu. Ada yang bertanya, “penting kah untuk ngerayainnya?” ada  pula yang kukuh bilang, “wajib merayakan Hari Ibu yang datang hanya setahun sekali! Beri perhatian extra pada ibu kita, teman!”

Lantas, apakah di hari biasa kita tidak perlu memberi perhatian extra pada ibu?

Ibu. Mama. Orang Ende memanggil; ine. Orang Sabu bilang; ina. Orang Larantuka bilang; ema. Di beberapa tempat di Indonesia memanggil ibu dengan enyak, emak, mamak, inang. Saya memanggilnya dengan mamatua. Intinya satu. Perempuan yang melahirkan kita ke dunia. Perempuan yang dengan susah payah membesarkan, memelihara, mendidik, melindungi kita dengan tujuan : agar kita menjadi anak baik dunia dan akhirat. Perhatian ibu pada kita bukan hanya saat hari ulangtahun, melainkan tiap hari. TIAP HARI. Omelan pasti ada, tapi jelas tanpa pamrih. Ibu (juga bapak) tidak berharap suatu saat kita jadi presiden. Mereka hanya berharap kelak ketika kita sudah dewasa, kita bisa memperhatikan mereka. Cukup perhatian kecil dengan mengirimkan sms atau telepon, “sudah makan, bu?” atau “sedang buat apa, bu?” atau membeli makanan kesukaan mereka saat gajian.

Setiap hari kita bisa membahagiakan ibu. Kenapa harus menunggu tanggal 22 Desember saja atau saat hari raya atau saat ibu ulangtahun? Setiap  hari berikan kasih sayang itu selagi masih bisa! Jangan sampai penyesalan yang datang pada kita. Jangan. Sayangi ibu… dengan menemani ibu mengobrol bercerita tentang kisah lampau, cukup untuk ibu. Paling tidak itulah yang saya lakukan. Hanya mendengar dan kadang tertidur hehehe. Tapi mamatua tidak pernah jera mulai bercerita. Membuka lembaran demi lembaran cerita lalu. Lucu, sedih, konyol, mengerikan, tapi itu semua sejarah. Kenangan yang tidak bisa dirubah. Cukup diceritakan saja turun-temurun. Quality time di keluarga kami yang tidak bisa diganti dengan apapun.

Tadi malam saya menonton sebuah film India. Iya, film India yang terkenal dengan kecerdasan dan menguras air mata itu. Judul filmnya We Are The Family. Kisah tentang seorang  ibu yang telah bercerai dan mengasuh 3 anak. Bagaimana tersudutnya ibu ketika ia ternyata menderita kanker rahim dan divonis hidupnya tidak lama lagi. Sementara itu mantan suami telah memiliki pacar dan siap menikah lagi. Ibu tidak ingin anak-anaknya dididik oleh pacar sang mantan suami yang punya gaya hidup berbeda dan jauh dari pribadi seorang ibu yang sesungguhnya. Tapi demi anak-anaknya (karena hidup yang tak lama lagi), ibu mengundang pacar mantan suaminya untuk tinggal di rumah, belajar jadi seorang ibu bagi 3 anaknya. Ia ingin anak-anaknya tetap memiliki ibu, meski itu bukan dirinya. Dan terbukti, seperti kata si ibu di film (yang kira-kira seperti ini), “tiap wanita memiliki naluri menjadi ibu. Hanya tinggal tunggu waktu saja apakah naluri keibuan itu akan keluar atau tidak. Biasanya sih akan keluar bila tiba waktunya.”

Apa yang dibilang ibu itu benar. Pacar sang mantan bisa menjadi ibu yang baik. Perlahan belajar dari kebiasaan tinggal di rumah itu. Bisa merawat anak-anak itu dengan cara berbeda tapi kasih yang utuh. Meski ibu sempat cemburu karena perhatian anak-anak mulai terbagi pada pacar sang mantan suami, tapi akhirnya dia harus sadar bahwa dia yang menginginkan perempuan itu untuk bisa jadi ibu bagi anak-anaknya. Mereka adalah keluarga. Keluarga dengan 2 ibu. Dan ketika si ibu harus pergi untuk selama-lamanya, segalanya siap. What a touching story. Ketika menonton film ini, mengingat ibu sendiri, merasa malu. Betapa ibu kita selalu ingin yang terbaik untuk kita. Apapun tindakan mereka, niatnya pasti baik. Ingat, orangtua adalah Tuhan di bumi.

We Are The Family bukan kisah cinta biasa ala India. Tak ada tarian mengelilingi pohon 🙂 yang ada hanya nyanyian dengan lirik penuh makna. Dalam. Film ini lebih bercerita tentang seorang ibu, bagaimana perasaan ibu, betapa perhatiannya ibu pada anak-anak melebihi siapa pun, tentang ibu yang harus ikhlas demi kebahagiaan anak-anaknya. Pengorbanannya tiada akhir. Dan saya juga heran kenapa saya bisa mengkopi film ini dari teman dan menontonnya saat hari menjelang pagi. Tersentuh kah saya? Iya. Sangat.

Untuk para ibu di muka bumi ini, selamat Hari Ibu (Mother’s Day dirayakan pada bulan Maret oleh orang barat saya :p).

Untuk sohib Flobamora Community sekalian, sampaikan salam sayang saya pada ibu kalian.

Selamat Hari Ibu 🙂

Wassalam.

***Tuteh Pharmantara untuk Flobamora Community.

Advertisements