Bertanya dan Berbagi

Posted on 22 December 2011

4



-“Bagi saya, hidup adalah proses bertanya. Jawaban hanyalah persinggahan dinamis yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman kita. Namun pertanyaanlah yang membuat kita terus maju”-
Kalimat Dewi Lestari ini terus terngiang dalam benak saya meskipun kepulan asap terakhir sudah pergi bersamaan dengan halaman terakhir buku MADRE, yang entah untuk keberapa kalinya saya baca lagi. Buat yang punya atau pernah baca buku itu, kalimat diatas ada di tulisan pengantar Dee yang judulnya “Menjelajahi Hasil Fusi” (buat yang belum punya dan belum baca, saya doakan semoga nanti bisa punya dan atau bisa baca..hehe)
Lalu sayapun tiba-tiba ingin menulis ini. Mungkin juga karena saya terinspirasi dari tokoh Tansen Wuisan dalam cerpen Madre yang juga seorang blogger. Tapi lebih karena saya merasa kalimat Dewi Lestari diatas itu benar-benar mengelaborasi sebagian besar isi otak saya. Saya manusia yang sering bertanya. Bahkan mungkin terlalu sering sampai-sampai saya merasa aneh sendiri. Namun Dewi Lestari sudah membuat saya kembali bahagia, setidaknya saya merasa ada orang lain yang berpikiran sama dengan saya (Karena lebih banyak isi otak saya tidak nyambung dengan orang, maka lahirlah blog ini,hehe).Permenungan saya tentang tanya-bertanya yang dikaitkan dengan tahu-tak tahu bahkan pernah melahirkan sebuah tulisan tak jelas yang berjudul “SAYA BODOH”.
Manusia dikaruniakan otak yang maha sempurna, maka jadilah  kita spesies yang selalu ingin tahu. Kita bertanya-tanya lalu berusaha mencari jawaban. Yang paling mendasar tentu pertanyaan tentang kenapa kita ada, darimana segalanya berasal, akankah semuanya ada akhir atau apakah alam semesta ini ada Penciptanya. Saya berani taruhan kalau hampir semua manusia waras pasti pernah berusaha menjawab ini atau paling tidak pertanyaan ini pasti sempat melintas di dalam otak semua manusia. Ini akan menjadi sebuah analisis filsafat yang rumit dan membosankan kalau saya panjang lebarkan lagi. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi manusia dan alam semesta bukan lagi bagian dari ilmu filsafat kuno, karena pakar-pakar Fisika Modern semacam Stephen Hawking bisa dengan mudah menjelaskan jawaban-jawabannya.
Saya lebih tertarik untuk mengkaji satu pertanyaan saja yang selalu berkecamuk di otak saya yaitu “untuk apa kita ada?”. Karena saya punya agama dan saya percaya Tuhan, maka saya yakin keberadaan kita ini pasti ada tujuannya. Dan jawaban paling sederhana dan paling mendasar dari pertanyaan ini menurut saya adalah “kita ada untuk berbagi”. Mungkin jawaban ini akan berbeda dengan jawaban orang lain, tetapi saya yakin semua jawaban yang positif dan serius untuk pertanyaan ini pasti benar. Hidup akan menjadi indah kalau kita suka berbagi. Berbagi cinta kasih, berbagi kebahagiaan, berbagi pengetahuan, berbagi rejeki dan berbagi-berbagi yang lain (kecuali berbagi hutang dan berbagi dosa..hehe)..
Ketika beranjak remaja, saya sering bertanya : kira-kira apa yang bisa bikin masa depan saya bahagia ya? Lalu jawaban saya ketika itu hanya satu, saya harus jadi kaya-raya, saya harus punya banyak uang. Dengan begitu saya bisa belikan orangtua saya apapun yang mereka minta, saya bisa traktir teman-teman, saya bisa keliling dunia, saya bisa punya mobil sport+apartemen mewah+rumah kaca di pinggir pantai berpasir putih dan saya bisa bikin sekolah gratis+panti asuhan. Garis besarnya kira-kira begitu, kalau dirinci lagi mungkin keinginan-keinginan itu bisa jadi ribuan. Tetapi setelah bertambahnya usia (jadi brasa tua deh 😛 haha) dan bertambahnya kepingan-kepingan pengetahuan yang menyusun otak, juga perjalanan hidup bersama orang-orang lain di sekitar saya (mungkin termasuk anda yang baca J ) lalu banyak hal-hal sederhana lainnya, yang akhirnya memaksa saya dengan sadar dan tanpa paksaan meralat jawaban saya itu.
Hidup bahagia dengan menjadi kaya raya dan punya banyak uang, bukan hal yang mustahil atau tidak boleh dicita-citakan. Tapi saya merasa itu seharusnya bukanlah sebuah tujuan, melainkan hasil. Hasil dari apa? Ya hasil dari Berbagi. Misalnya begini : saya punya pengetahuan, lalu saya bagi dengan orang lain, lalu kami bisa bikin sebuah perusahaan. Karena semangat saya berbagi dan bukan rakus, maka dengan perhitungan yang matang maka perusahaan tersebut jadi maju, karena maju keuntungannya jadi banyak, maka saya bisa bikin perusahaan berikutnya lagi dan kembali berbagi lagi dengan orang lain. Semakin banyak orang semakin banyak doa dan karena semangatnya berbagi rejeki maka makin banyak lagi ketulusan dan loyalitas. Maka begitu terus dan terus, sampai akhirnya saya bisa sekaya Bill Gates dan seinspiratif Steve Job..hehehe.. Ini hanya contoh, tapi kira-kira begitulah alur logikanya. Ketika kita berbagi dengan tulus dan sesuai dengan kemampuan kita, pasti ada balasanNya hanya masalah kapan dan bagaimana balasan itu datang. Berbagi dengan tulus seperti memancarkan aura positif ke alam semesta.
Ngeblog dan menulis ini juga adalah bagian dari semangat saya untuk berbagi. Walaupun saya tidak tahu siapa yang saya bagi dan apakah ada manfaatnya, tapi saya yakin akan ada balasanNya kalo ini benar-benar bermanfaat buat teman-teman yang rela membacanya. Semoga.
Teruslah Bertanya dan Teruslah Berbagi !

theRail#BW
Where do we go?????

JAKARTA
24/11/2011
02.30 AM

 

 

 

NB: Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kabar kalau salah satu foto saya dari blog ini, entah yang mana dan oleh siapa, dimuat di sebuah Koran lokal di Flores, tanpa terlebih dahulu minta ijin atau setidaknya menghubungi saya. walaupun katanya ada watermark saya di situ. Secara etika saya merasa diperlakukan tidak nyaman, ini bukan karena masalah kompensasi (dan saya  tidak akan minta satu peserpun).  Tetapi walaupun saya bukan fotografer, foto-foto jelek yg saya publish adalah proses kreatif saya yang ada copyrightnya. Hanya saya yang berhak menaruhnya dimana saja dan memberikan kepada orang lain dengan persetujuan saya. Tapi setelah membaca Madre hari ini, dan setelah baca ulang tulisan ini, saya pikir itu mungkin salah satu konsekuensi dari semangat saya berbagi dengan blog ini maupun dengan media social network lain yg saya ikuti. Sehingga saya merasa tidak perlu mempermasalahkannya lagi. Mungkin ada teman-teman blogger yang paham atau mengerti tentang hal semacam ini di dunia blogging,??jangan sungkan utk berkomen dan berbagi jawaban dgn sy ya..terimakasih..

***Doddy Nai Botha. Diambil dari sini.

Advertisements