Pilih Mana: Makan Dulu Baru Berdoa Atau Berdoa Dulu Baru Makan

Posted on 3 December 2011

1


: Merayakan 6 tahun ngeblog

 Dua bulan lalu ketika bereuni dengan beberapa teman seangkatan di SMA dulu, seperti biasanya kami mengobrol banyak hal dari kisah-kisah lucu ala kami anak berseragam putih abu-abuers dulu, hingga kondisi sekarang antara ribetnya bikin skripsi atau mencari pekerjaan. Maka sampailah juga ke satu topik yakni menikah atau kawin. Landasan menyerempet ke topik ini sebenarnya karena kami merasakan hal yang sama (kompak ni yee) bahwa kok makin banyak yah teman-teman kita yang sudah menikah, meski menikah karena sudah terlanjur hamil duluan. Opps agak sensitif nih topiknya. Jadi ingat lagu fenomenal ‘Hamil 3 Bulan’ yang nyangka gak nyangka, suka gak suka sudah terjadi sekarang, disekitar kita, orang-orang terdekat kita atau mungkin kita sendiri. Oke, semua tentu punya alasan sendiri-sendiri. Lagian agak susah nih (selain alasan sensitif tadi) jika kita ingin membahas yang namanya institusi perkawinan yang masih berlaku dan dianggap normal dan bermoral versus yang amoral dan disebut-sebut konon katanya karena budaya asing. Beraat.

Tapi seorang teman saya, Gerald namanya berseloroh asal, ‘itu namanya MAKAN dulu baru BERDOA. Padahal idealnya sih BERDOA dulu baru MAKAN.’

Kami tertawa. Serempak. Dipikir-pikir benar juga analogi teman saya itu. Maksudnya benar bahwa idealnya sih menikah resmi dulu baik secara sipil maupun agama baru deh menikmati ‘makanan’nya. Ups, maksudnya menikmati hubungan layaknya pasangan suami istri pada umumnya.

Itu menurut kami yang kebetulan punya persepsi seperti itu. Atau mungkin sebenarnya ada  kebetulan lain yang tersembunyi disana, kalau-kalau ada diantara kami, saya dan teman-teman saya itu nyatanya sudah pernah ‘makan duluan tapi lupa berdoa’ cuma masih malu-malu dan enggan mengaku. Kembali lagi semua ini sah-sah saja seturut cara pandang masing-masing, juga hubungannya dengan Sang Pencipta. Karena yang paling pas menghakimi yah Beliau. Trus ngapain yah saya menulis ini? Hehehe, tepatnya ini sih cuma menilai dengan cara pandang saya, bukan juga mau menghamiki. Karena toh yang melakukan bukan anak kecil lagi rata-rata sudah mahasiswa yang sepertinya bukan remaja ababil. Ah, bukan ababil kok bisa kecolongan yah? Dung..dung…dung *ketok jidat*

Pulang dari acara reuni itu, saya kembali berpikir ulang tentang analogi teman saya itu yang saya kaitkan lagi dengan banyak fakta di sekeliling saya akhir-akhi ini kalau (maaf) lumayan banyak juga yang pada akhirnya ‘terpaksa’ menikah karena si pacar sudah terlanjur hamil. Dan banyak dari mereka statusnya masih mahasiswa. Kalau status keduanya sudah bekerja sih biasanya ada pemakluman dari masyarakat. Ada PR besar sebenarnya bagi orang tua, pendidik, agamawan, masyarakat umum untuk tanggap lagi dengan fenomena ini. Kalau saya sih melihatnya dari kacamata psikologis dan ekonomis, apakah secara mental keduanya sudah siap untuk menjadi orang tua? Atau hanya karena terjebak dalam luapan emosi cinta sesaat. Teringat perkataan teman saya di Jogja dulu, ‘makanya pakai kondoooom..’ (*kedip-kedip mata*). Bagaimana dengan kesejahteraan keluarga pasca menikah? Bagaimana dengan pendidikan anak-anak nantinya? Konsepnya harus jelas, dengan kesiapan mental dan pertimbangan-pertimbangan logis lainya. Banyak. Coba deh sekali-kali tanya atau berkaca dari kehidupan perkawinan ortu kita masing-masing.itu paling pas, adil dan jujur.

Dulu saat kuliah saya sempat magang di Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang banyak sekali mengkonseling remaja-remaja terkait pendidikan seks, ketangguhan dan kemampuan mental yang harus dimiliki oleh seorang remaja yang diharapkan akan mempengaruhi sikap dan perilaku mereka biar lebih tangguh saat menghadapi perubahan zaman. Efeknya  bagus sekali. Saya selalu menyarankan ke teman-teman saya, coba deh sesekali nonton film Blue Valentine (Michelle Williams dan Ryan Gosling), Rabbit Hole (Aaron Eckhart dan Nicole Kidman), atau Revolutionary Road (Leo DiCaprio dan Kate Winslet). Tidak gampang lho untuk menjalani kehidupan berumah tangga, menyatukan dua isi kepala berbeda, paling tidak itu kesimpulan sederhana dari otak saya yang ber-IQ standar ini.

Ah, sudah dulu. Itu sih sekelumit pendapat saya. Tulisan sejenis juga sudah pernah saya posting DI SINI dan DI SINI. Wajar jika saya jadi lapar sekarang, tandanya saya harus maka. Apalagi tadi lupa sarapan. Dicky, jangan lupa berdoa, biar esoknya masih diberi makan lagi sama Tuhan. Nah, Lho.

 Apapun pilihanmu jangan lupa juga cuci tangan yah,  ada banyak e-coli, dkk disana.

 
Salam

 

CDS

SoE, 3 Desember 2011

Advertisements