Kelimutu; Kunjungan Ke-4

Posted on 3 November 2011

14



Setelah diwawancara oleh Bu Reni yang baik hati dari PPNI Jakarta untuk keperluan Penelitiannya WHO, perbincangan berlanjut dari enaknya Ubi Nuabosi hingga rencana mereka ke danau Kelimutu. Dan saya diajak. Beliau mengagumi rasa ubi Nuabosi yang disuguhkan saat mereka datang berkunjung ke almamater saya, tidak lupa juga pedasnya sambal yang bikin ketagihan. Sampai menanyakan Nuabosi itu apa dan dimana. Hasil pertanian kebanggaan kota Ende, ubi Nuabosi ini tidak ada duanya. Tidak ada ubi atau singkong di daerah manapun yang mampu menyaingi gurih dan lembutnya Ubi Nuabosi. Berbanggalah para petani ubi Nuabosi yang hasil tanahnya bisa mendulang kekaguman atas rasa di lidah para pengecapnya.

This slideshow requires JavaScript.

Rencana perjalanan ke Danau Kelimutu yang dipromotori oleh Almamater saya ternyata sudah paten rupanya. Seorang dosen saya juga turut mengajak. Iโ€™m in! saya suka jalan-jalan, apalagi gratis. Tinggal setor badan saja :p

Setelah minta izin sama kepala Ruangan dan mendapatkan acc, saya melanjutkan usaha permohonan izin ini di rumah dan syukurlah di-acc juga. What a blessing, karena seharusnya besoknya itu saya shift pagi. Izin di hari kerja, jarang-jarang lho dikasih izin! ๐Ÿ˜€

Jadilah jam 3 sudah bangun dan siap mengejar sunrise di puncak Kelimutu. Setelah sampai di tempat ngumpul saya malah kecewa, Cuma ada saya dan seorang dosen yang sudah rapi jali. Yang lain mungkin masih nyenyak. Inilah yang saya tidak suka dari perjalanan rombongan, Karena harus menunggu si A dan si B

Meskipun ini kali ke empat, tetap saja feel exited. Bepergian dengan rombongan yang berbeda, memimpikan perubahan apa yang menanti saya disana sejak kunjungan terakhir dan memang saya merindukan jalan-jalan, membuat saya bersemangat meski harus menunggu lagi.

Kelimutu, tiga Danau itu menyimpan banyak kenangan tentang perjalanan saya yang lalu-lalu. Puncaknya masih tetap tinggi, syukurah hari ini langit cerah tanpa kabut sedikitpun. Meski tidak bisa mengejar sunrise tetap senang berada di kaki 3 danau berwarna itu. Merasakan atmosfir yang disisipi cerita misteri tentang arwah leluhur penunggu danau dan memikirkan teori ilmiah untuk menjelaskan perubahan warna danau itu membuat saya merasa begitu kecil dan sedikit pusing, entahlah, mungkin karena mabuk darat. Tentang cerita mitos itu saya tidak perlu menjelaskan lagi, sudah banyak sekali tulisan tentang Danau Kelimutu itu sendiri dengan riset yang lebih mantap dari sekedar cuap-cuap saya. Haahaah :p

Kami sarapan di pendopo di pelataran parkir, dengan menu nasi jagung, ubi Nuabosi yang direbus, sambal, ikan teri saus tomat, ikan goreng, dan teh hangat yang baru diseduh dari air dalam termos. Wah, lengkap sekali ibu-ibu ini mempersiapkan bekal. Pantesan jadi molor jadwal perjalanannya.
Jadi ingat perjalanan saya sebelumnya dengan teman-teman SMA, perjalanan tanpa rencana, bermodalkan bensin dalm tanki motor dan sebotol air mineral dan biscuit yang dibeli di kios tepian jalan menuju danau. Benar kata Slank, makan gak makan asal ngumpul. Kami waktu itu tetap cerah ceria penuh tawa meski bermodalkan bekal pas-pasan! ๐Ÿ˜€

Ini kali keempat saya ke Danau Kelimutu. Terakhir kesana tahun 2009 lalu, dan wow! ternyata lumayan sedikit ada perubahan, di samping warna Danau yang sudah berubah. Papan penunjuk jalurnya juga baru, lebih artistic. Tangga menuju puncak pengamatan (tugu) sudah dipoles lebih baik, begitu juga dengan tugu yang sudah sudah dipoles lebih cantik dengan relief yang menggambarkan wanita Ende sedang bertenun, sedang menari, dan kegiatan lainnya. Di sepanjang jalur tracking sudah disediakan tempat sampah. Lumayan, sepanjang perjalanan saya tidak menemukan sampah plastic tergeletak di jalanan atau pojokan gazebo. Ini suatu perubahan yang baik. Salut untuk Petugas Taman Nasional Danau Kelimutu ๐Ÿ™‚

Di perjalanan menuju danau kembar kami sempat heboh karena segerombolan monyet, mereka menggendong bayi, melekat di dada, sambil memungut dan mengunyah keripik pisang yang kami beri, lalu datang sang jantan yang lebih besar melompat-lompat dan menggeram heboh ke arah kami. Pak Markus, petugas jagawana yang mendampingi rombongan kami dengan sigap menakut-nakuti mereka dengan parang yang sebelumnya selalu bertengger di pinggang.

โ€œTerpaksa saya pake parang, Nona, mereka Cuma takut kalau liat parang. Bulan lalu ada dua bule yang mereka gigit dan saya langsung antar dorang ke Puskesmas di Moni.โ€ Itulah jawaban Pak Markus ketika saya bertanya. Pak Markus ini selain jadi tour guide juga jadi fotografernya kami lho. Sekalipun kami sodor berbagai ponsel, Pak Markus tidak pernah menolak meski kami harus menjelaskan cara mengambil gambar dari kamera ponsel itu, malah menjepret berulang ulang tanpa kami minta untuk lagiiii Paaaak ;p

Oh iya, di puncak tugu, selain tampak fisik tugu yang sudah dipercantik, juga sudah ada penjual tenun ikat, penjaja kopi dan air mineral. Ketika saya bertanya tentang penghasilan dari berjualan minuman itu sehariankepada seorang ibu berjilbab yang menjual kopi dan aneka snack, permen dan air mineral itu menjawab seharinya bisa dapat 100 ribu, kebayakan yang bule, mereka suka minum kopi pagi-pagi sekali di puncak jadi ibu-ibu penjual ini dari subuh sudah mendaki ke puncak juga melawan dinginnya udara puncak Kelimutu. Proud of you, bu. ๐Ÿ™‚

Salah satu dari tim dari Jakarta ini yang bertubuh gempal dengan susah payah mendaki ratusan anak tangga menuju tugu dan ketika sampai di puncak, beliau histeris. โ€œWaaaaahhhโ€ฆ akhirnya. Selama ini hanya bisa lihat di kalender! Akhirnya bisa menginjakkan kaki disini juga.โ€
Ada suatu kepuasan tersendiri ketika kita sudah berlelah-lelah mendaki ratusan anak tangga menuju puncak dan langsung disuguhi pemandangan cantik ketiga kawah Gunung Kelimutu yang telah menjadi danau berwarna itu. Segenap letih hilang seketika.

Saya selain sibuk minta difoto oleh teman seperjalanan juga sibuk mengambil gambar beberapa tumbuhan, papan petunjuk jalur, tulisan di tugu, tenun ikat yang digantung di sepanjang perjalanan saya. Seorang dosen dan mahasiswa yang ikut berceletuk apa saya mengadakan semacam riset karena mengambil gambar tumbuhan itu. Saya menjelaskan untuk diposting ke blog saya. Dan tentu saja, promosi tentang blog mengalir dengan sendirinya.

Sekali pendakian dua tiga danau terlampaui. #eh! Hehe ๐Ÿ™‚

***Fauwzya Dean, Ende

Advertisements