Terima Kasih Masa Lalu

Posted on 11 October 2011

2


Terima Kasih Masa Lalu
Masa lalu.

Masa yang telah berlalu. Di belakang. Dan tinggalkan.

Saya pernah membaca di jejaring social, kutipan yang saya suka, “Dalam hidup, jangan pernah biarkan kesedihan di masa lalu dan ketakutan akan masa depan, merusak kebahagiaanmu saat ini.
Ya! Saya pernah sedih karena masa lalu dan pernah takut akan masa depan karena masa lalu sayaitu sendiri.
Saya pernah merasa takut dan terlanjur merasa tidak bisa menjalani segala hidup saat ini dan untuk masa depan. Seakan berada di ujung jurang menganga di depan saya dan tebing tinggi tepat dibelakang saya. Tidak ada jalan untuk berlari dan menyelamatkan diri. Hanya diam di tempat. Stuck in the moment. Stuck fearfully.
Saya terlalu lemah saat itu. Dan tentu saja cengeng!
Lalu otak saya mengambil alih kekuasaan. Mungkin selama ini dia sudah terlalu banyak mengalah pada hati. Dengan ekspansi pemikiran otak yang didapat dari semangat yang sudah disusupi oleh Tuhan, keluarga, teman dan bacaan. Mungkin kemarin saya begitu jauh dari Tuhan, jauh dari keluarga, jauh dari teman, jauh dari bacaan bijak, sehingga tak ayal lagi saya begitu rapuh dan merasa terpuruk. Dunia saya hanya berotasi mengelilingi satu titik itu. Kenangan masa lalu.
Pikiran demi pikiran memasuki ruang yang sebelumnya dipenuhi oleh perasaan sedih dan takut. Menyusup perlahan, mengambil alih lalu mendepak semua rasa negative yang membuatku terpuruk selama berminggu-minggu. Yah, saya tidak memungkiri bahwa saya pernah menjadi orang bodoh selama lebih dari bertahun-tahun karena saya terlalu membiarkan perasaan yang mengendalikan kehidupan saya.
Saya merasa bersalah pada diri saya sendiri. Merasa berdosa terhadap Tuhan saya. Itu saja yang saya sesalkan sekarang.
Tapi demikian hidup ini dimaknai dengan adanya perubahaan. Saya memilih untuk move on. Kemarin saya terlalu mementingkan perasaan orang tanpa memperhatikan perasaan saya sendiri. Sudah saatnya saya menyayangi perasaan saya sendiri dengan tetap menggunakan otak saya yang positif.

Saya pernah membuat kesalahan, dan jika saya harus salah lagi maka itu bukan lagi kesalahan tapi pilihan. Dan saya tidak mau terus-terusan berada dalam pilihan yang salah. Saya belajar dari kesalahan. Karena dengan belajar dan mencoba saya bisa mengukur seberapa kuat saya, seberapa teguh saya dengan prinsip hidup saya untuk menjadi lebih baik. Diluar dugaan, saya kuat. Saya tidak serapuh yang saya bayangkan. Tuhan saya masih menyayangi saya apa adanya. Tuhan memberikan luka untuk membuat saya belajar bagaimana menjadi pribadi yang kuat. Saya percaya selalu ada hikmah di balik setiap masalah. Keluarga saya juga begitu, Kakak terbaik saya yang sudah 22 tahun ini menjadi malaikat penjaga saya. Bang, saya merasa beruntung menjadi adikmu, meski banyak orang merasa kau itu nothing.. Teman teman saya apalagi, rentetan telpon, sms, dan kehadiran mereka pada saat terburuk saya membuat saya sadar, di luar sana masih banyak orang yang peduli saya. Kenapa saya tidak peduli pada diri saya sendiri karena sesuatu?!

Saya tidak ingin membenci, tidak juga ingin memendam dendam, saya hanya ingin mencari sesuatu yang benar untuk jalan hidup saya ke depannya. Saya tidak ingin menjadi orang jahat yang membenci mereka yang mengecewakan saya. Pada kenyataannya sayalah yang memposisikan diri hingga bisa dikecewakan.
Saya belajar sabar, belajar ikhlas, belajar memaafkan, belajar selektif, belajar untuk tidak mudah rapuh, tidak mudah jatuh, dan menitikkan air mata. Saya masih terus belajar. Dan masa lalu yang mengajari saya tentang semuanya meski tak mudah.
Untuk itu saya ingin berterima kasih kepada masa lalu.

Lihatlah, saya masih bisa hidup dan mencari kebahagiaan untuk masa depan saya.

I have to move on
Cause, the most pathetic person is the one who hold anger, hatred, revenge, and unable to forgive the past.

-Fauwzya Dean-

akhirnya jadi #nyampah disini karena rayuan maut ncim Tuteh :s

Advertisements
Posted in: Blog